Research Paper on MUI – The Unsuccessful Bureaucratization of Islam in Indonesia

During my graduate studies I took an independent study module on Political Islam and Governance. My paper was titled “Majelis Ulama Indonesia (MUI): The Unsuccessful Bureaucratization of Islam in Indonesia”.

In my paper, I argued that the Majelis Ulama Indonesia (Indonesian Council of Ulama – MUI) illustrates the case of an unsuccessful effort to bureaucratize Islam under the state. The bureaucratization effort was unsuccessful because the establishment of the quasi-official MUI has been the endeavor of Soeharto particularly to use the ulama to legitimize his New Order regime and its government policies, but MUI during the New Order period has never been really controlled by the state and after 1998 it has become more independent in its stance. To a certain extent, MUI in its recent development has also become a player to reckon with in regard to the Islamization of the state.

My argument would firstly be based on the understanding of the bureaucratization of Islam and why this was the necessary approach taken by the government in the early phase of post-independence. Based on the writing of other scholars who have closely examined the fatwas and tausiyahs issued by MUI, I then demonstrate how MUI has gradually distanced itself away from the state and have made efforts to appease the ummah (community of believers). Last but not least, I will explain why MUI serves as the venue for contestation in the future trajectory of political Islam in Indonesia, as it shapes the agenda of the state instead of the other way around.

You can download the paper here. Since this paper was done in 2012, it has not been updated to reflect the current developments, but in the purpose of policy research and constructive engagement, I am open for feedback and discussion.

Advertisements

1 thought on “Research Paper on MUI – The Unsuccessful Bureaucratization of Islam in Indonesia”

  1. Really good timing for posting (or reposting) this really good written article. I have some thoughts, but unfortunately my english is not good, so (within ashamed of my self) I’ll post it in Indonesian..

    Karena saya masih belajar perspektif, mungkin ini agak serampangan.. 🙂

    Indonesia memang unik, tidak bisa diprediksi. Terutama untuk masalah agama dan negara. Berbagai teori diungkapkan dengan analisanya yang luar biasa. Tapi itu menurut saya belum cukup untuk membaca dinamika masalah in di masa lalu dan merumuskan petanya di masa depan. Termasuk masalah MUI ini..

    Dalam Islam, terdapat banyak definisi menyangkut ‘ulama. Apapun itu, yang jelas dalam al-Quran disebutkan ‘ulama itu adalah mereka yang takut Allah. (Fathir: 28), takut di sini adalah disertai cinta dan pengharapan (bukan seperti takut pada penjahat, dll). ‘Ulama adalah pewaris para Nabi (hadith). Seseorang yang memahami hal ini, tidak akan berani merasa sebagai ‘ulama, apalagi menganggap dirinya. Oleh sebab tiu, kalaulah ada orang yang dianggap sebagai ‘ulama, itu adalah sesuatu yang berat bagi pribadi dirinya. Karena ada tuntutan dan tanggung jawab yang luar biasa besarnya di balik itu.

    Jika ada satu mejelis yang didirikan untuk berkumpulnya para ‘ulama. Apapun tuntutan dibalik pendirian itu, ada tuntutan lain yang tidak boleh ditinggalkan (takut kepada Allah dan pewaris para Nabi). Maka di situ, meski tidak jarang ‘ulama yang juga manusia biasa (anggota majelis tersebut), terjadi konfrontasi dalam dirinya. Karena pemenuhan dua tuntutan itu tidak jarang pula bertentangan.

    Di pihak lain, pemerintah dalam hal ini punya visi yang tidak jelas. Terus berubah. Entah sesuai pesanan atau memang idealisme para pemegang tumpuk kekuasaan yang seperti itu.

    Kesimpulan saya untuk sementara ini; ialah bukan independensi para ‘ulama/ MUI yang semakin jauh dari pemerintah. Mereka masih tetap dalam satu garis, satu pijakan, yang terkadang sesekali melebar tapi akhirnya kembali lagi ke garis tersebut. Tapi pemerintahlah saat ini dengan kebijakan-kebijakannya yang semakin menjauh melenceng dan melebar dari garisnya. Ketika Ppara ‘ulama/ MUI diajak mengikuti garis mereka, kemungkinan besar ajakan itu tidak akan dituruti. Dan jadilah gap antara keduanya semakin jauh.

    And.. that’s it. I hope you reply this..
    Thanks..

Comments are closed.